Tata Cara Sholat Tarawih Sesuai Sunnah Lengkap

Posted on
Tata Cara Melakukan Sholat Tarawih
Tata Cara Melakukan Sholat Tarawih

Tata Cara Sholat Tarawih Sesuai Sunnah dan Sejarahnya – Sholat tarawih sama seperti sholat-sholat lainnya namun sholat tarawih dilaksanakan setelah sholat Isya dan hanya dilakukan saat bulan Ramadhan saja. Bulan Ramadhan adalah bulan yang sangat berkah, untuk itulah umat muslim dianjurkan untuk banyak beribadah, salah satunya adalah menjalankan ibadah tarawih.

Seperti apakah tata cara sholat tarawih dan bagaimana sejarah adanya sholat tarawih? Berikut adalah penjelasannya.

Tata Cara Sholat Tarawih Sesuai Sunnah

Sholat tarawih adalah adalah salah satu sholat sunnah yang dilakukan khusus hanya pada bulan Ramadan yakni setelah sholat Isya. Ada dua pendapat tentang berapa banyak rakaat yang harus dilakukan. Satu pendapat mengatakan bahwa seharusnya 8 rakkah diikuti oleh tiga rakkah dari witr. Buktinya adalah hadits-hadits berikut

‘Aa’ishah RA berkata Nabi sholat di bulan Ramadhan sebanyak sebelas rakaat di malam hari, dan salam setelah masing-masing dua rakaat, dan dia akan sholat witr dengan satu rak’ah.

Apakah akan sholat dengan 4 rakaat atau 2 rakaat? Para ulama’ mengatakan bahwa itu harus 2 rakaat lalu salam karena ada hadits Ibn ‘Umar yang menurutnya seorang pria bertanya kepada Rasulullah SAW tentang shalat di malam hari. Nabi mengatakan: “Sholat di malam hari harus dilakukan dua raakah pada satu waktu. Jika ada di antara Anda yang khawatir bahwa waktu subuh sudah dekat maka biarkan dia shalat satu rakaat sebagai Witr. ”(HR. Bukhari, 846; Muslim, 749)

Namun ada para imam fikih yang memilih jumlah rakah yang berbeda, Imam Ahmad, Imam Abu Hanifah, dan Imam al-Syafi’i mengatakan seseorang harus sholat 20, bukan 8. Imam Maalik mengatakan jumlahnya tiga puluh enam. Namun tidak ada hadis otentik untuk mendukung 20, 36 atau jumlah yang tidak terbatas.

Adapun niat untuk melakukan sholat tarawih adalah :

Niat shalat tarawih sebagai Imam

اُصَلِّى سُنَّةَ التَّرَاوِيْحِ رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ إِمَامًا ِللهِ تَعَالَى

Usholli sunnat-tarawihi rok’ataini mustaqbilal qiblati imaman lillahi ta’ala

Artinya:

“Aku niat Shalat sunnah tarawih dua rakaat menghadap kiblat menjadi imam karena Allah Ta’ala”

Niat shalat tarawih sebagai makmum

اُصَلِّى سُنَّةَ التَّرَاوِيْحِ رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ مَأْمُوْمًا ِللهِ تَعَالَى

Usholli sunnatat tarawihi rok’ataini mustaqbilal qilblati ma’muman lillahi ta’ala”

Artinya:

“Aku niat shalat sunnah tarawih dua rakaat menghadap kiblat sebagai makmum karena Allah Ta’ala”

Niat shalat tarawih sendirian di rumah :

اُصَلِّى سُنَّةَ التَّرَاوِيْحِ رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ ِللهِ تَعَالَى

Usholli sunnatat tarawihi rok’ataini mustaqbilal qiblati lillahi ta’ala

Artinya:

“Aku niat shalat sunah tarawih dua rakaat menghadap kiblat karena Allah Ta’ala Setiap hari setelah 8 rakah sholat tarawi, sholat witr juga harus dilakukan dengan membaca niat sebagai berikut :

Niat salat witir dengan jumlah satu rakaat :

أُصَلِّى سُنَّةَ الوِتْرِ رَكْعَةً مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ (إماما/مأموما) للهِ تَعَالَى

Usholli sunnatal witri rak’atan mustaqbilal qiblati (imaaman/makmuuman) lillaahi ta’aalaa

Artinya:

“Aku niat shalat Witir satu rakaat menghadap kiblat (jadi imam/makmum) karena Allah Ta’ala”

Niat salat witir dengan jumlah 2 Rakaat

أُصَلِّى سُنَّةَ الوِتْرِ رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ  (إماما/مأموما) للهِ تَعَالَى

Usholli sunnatal witri rak’ataini mustaqbilal qiblati (imaaman/makmuuman) lillaahi ta’aalaa

artinya:

“Aku niat shalat Witir dua rakaat menghadap kiblat (jadi imam/makmum) karena Allah Ta’ala”.

Kemudian sholat witr ketika di pertengahan bulan Ramadhan juga harus diikutioleh bacaan qunut yaitu :

اللَّهُمَّ اهْدِنِى فِيمَنْ هَدَيْتَ وَعَافِنِى فِيمَنْ عَافَيْتَ وَتَوَلَّنِى فِيمَنْ تَوَلَّيْتَ وَبَارِكْ لِى فِيمَا أَعْطَيْتَ وَقِنِى شَرَّ مَا قَضَيْتَ فَإِنَّكَ تَقْضِى وَلاَ يُقْضَى عَلَيْكَ وَإِنَّهُ لاَ يَذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ

Allahummahdiini fiiman hadait, wa’aafini fiiman ‘afait, watawallanii fiiman tawallait, wabaarik lii fiima a’thait, waqinii syarrama qadlait, fainnaka taqdhi walaa yuqdho ‘alaik, wainnahu laa yadzillu man waalait, tabaarakta rabbana wata’aalait.

(Ya Allah, berilah aku petunjuk di antara orang-orang yang Engkau beri petunjuk, dan berilah aku keselamatan di antara orang-orang yang telah Engkau beri keselamatan, uruslah diriku di antara orang-orang yang telah Engkau urus, berkahilah untukku apa yang telah Engkau berikan kepadaku, lindungilah aku dari keburukan apa yang telah Engkau tetapkan, sesungguhnya Engkau Yang memutuskan dan tidak diputuskan kepadaku, sesungguhnya tidak akan hina orang yang telah Engkau jaga dan Engkau tolong. Engkau Maha Suci dan Maha Tinggi)” (HR. Abu Daud no. 1425, An Nasai no. 1745, At Tirmidzi no. 464. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Sejarah Sholat Tarawih

Baik al-Bukhaari (1129) dan Muslim (761) diriwayatkan dari ‘Aisyah RA bahwa Rasulullah sholat satu malam di masjid, dan orang-orang mengikuti dia dalam sholatnya. Kemudian Rasulullah sholat pada malam berikutnya, dan banyak orang datang. Kemudian mereka berkumpul pada malam ketiga atau keempat, dan Rasulullah tidak keluar kepada mereka. Keesokan paginya dia berkata, “Aku melihat apa yang kamu lakukan, dan tidak ada yang mencegahku untuk keluar kepadamu kecuali kenyataan bahwa aku takut itu akan menjadi kewajiban bagimu.” Dan itu di bulan Ramadhan

Hadits ini menunjukkan bahwa sholat tarawih ditentukan dalam Sunnah Nabi (saw). Umar selama Khilafahnya mendirikan kembali sholat sunnah berjamaah ini.

Diriwayatkan dalam al-Saheehayn dari ‘Aisyah (ra dengan dia) bahwa Rasulullah melakukan sesuatu yang dia suka lakukan agar orang-orang melakukannya dan itu menjadi wajib bagi mereka. (HR. Bukhari, 1060; Muslim, Salaat al-Musaafireen, 1174).

Al-Bukhaari (2010) meriwayatkan bahwa ‘Abd al-Rahmaan ibn’ Abd al-Qaari berkata: Saya pergi dengan ‘Umar ibn al-Khattaab ke masjid suatu malam di bulan Ramadhan, dan orang-orang tersebar, masing-masing orang berdoa sendiri. Beberapa pria akan sholat dan ada sekelompok orang di belakang mereka mengikuti mereka. ‘Umar berkata:“ Saya pikir jika saya menyatukan semua orang ini dengan satu bacaan, itu akan lebih baik. Kemudian dia memutuskan untuk mengumpulkan mereka di belakang Ubayy bin Ka’b.

Al-Haafiz berkata: Ibn al-Teen dan yang lainnya mengatakan bahwa ‘Umar mendasarkan keputusan ini atas persetujuan Nabi dari mereka yang shalat bersamanya pada malam-malam itu. Meskipun dia tidak menyukai itu untuk mereka, itu didasarkan pada rasa takut bahwa itu akan menjadi kewajiban bagi mereka.

Ketika Nabi meninggal, tidak ada lagi ketakutan akan hal itu terjadi, dan ‘Umar berpikir, karena potensi perpecahan yang mungkin timbul dari orang-orang yang tarawih secara terpisah, dan karena menyatukan mereka di belakang satu bacaan lebih memotivasi banyak orang. Mayoritas setuju dengan keputusan ‘Umar. Akhiri kutipan dari Fath al-Baari

Lalu apakah yang membedakan sholat tarawih dengan sholat tahajud? Kedua shalat itu sama sama-sama diklasifikasikan sebagai bagian dari qiyaam al-layl. Namun Qiyaam al-layl selama Ramadhan disebut tarawih karena salat digunakan untuk beristirahat setelah setiap dua atau empat rakaat.

Sholat tarawih memiliki doa yang panjang sebagai ladang pahala yang besar di bulan Ramadhan. Seperti itulah tata cara sholat tarawih dan sejarahnya, semoga bermanfaat.

Tata Cara Sholat Tarawih Sesuai Sunnah Lengkap

(Visited 25 times, 1 visits today)
Gravatar Image
Perkenalkan saya Azqiara, saya seorang penulis di dalam website ini untuk berbagi banyak sekali tentang pengertian dan penjelasannya sangat detail, saya berharap tulisan ini dapat bermanfaat untuk anda.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *