Sejarah Maulid Nabi, Makna Dan Hikmahnya

Diposting pada

Memperingati hari lahir Nabi Muhammad SAW biasa disebut sebagai Maulid Nabi telah menjadi semacam tradisi bagi umat Islam di berbagai belahan dunia, tak terkecuali Indonesia. Peringatan Maulid Nabi pada 12 Rabiul Awal menjadi momen untuk membangkitkan serta menjaga semangat Nabi dalam diri umat muslim.

Sejarah Atau Kisah Maulid Nabi

Para ahli sejarah mengemukakan bahwa kelompok yang pertama kali mengadakan maulid adalah kelompok Bathiniyah, mereka menamakan dirinya sebagai bani Fatimiyah dan mengaku sebagai keturunan Ahli Bait (keturunan Nabi SAW).

Kelompok  batiniyah mempunyai 6 peringatan maulid, yaitu maulid Nabi SAW, maulid Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu, maulid Fatimah, maulid Hasan, maulid Husain dan maulid penguasa mereka. Kelompok Bathiniyah ini baru berkuasa pada awal abad ke-4 H.

Oleh sebab itu, para ulama sepakat bahwa maulid Nabi SAW muncul di zaman belakangan, setelah berakhirnya massa 3 abad yang paling utama dalam umat ini (al quruun al mufadholah). Yang artinya peringatan maulid ini belum pernah ada di zaman Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam dan para sahabat, tabi’in dan para Tabi’ tabi’in.

Maulid Nabi Muhammad SAW

Al Hafid As Sakhawi berkata: “Peringatan maulid Nabi SAW belum pernah dinukil dari seorangpun ulama generasi terdahulu yang termasuk dalam tiga generasi utama dalam islam. Namun peringatan peringatan maulid Nabi SAW terjadi setelah masa itu.”

Dan pada hakekatnya, tujuan utama daulah ini mengadakan peringatan maulid Nabi SAW adalah dalam rangka menyebarkan aqidah dan kesesatan mereka. Mereka mengambil simpati para kaum muslimin dengan kedok cinta ahli bait Nabi SAW.

Makna Maulid Nabi

Dengan adanya acara peringatan maulid Nabi SAW, umat Islam diharapkan dapat mengingat kembali betapa gigih perjuangan rasul dalam merintis dan mengembangkan ajaran Islam di tengah tradisi dan budaya Arab yang waktu itu dalam keadaan jahiliyah.

Satu hal yang harus dilakukan umat Muslim ketika merayakan maulid Nabi SAW adalah meneladani sikap dan perbuatan, terutama pada akhlak agung dan mulia dari baginda Nabi besar Muhammad SAW.

Bukan hanya acara peringatan belaka, perayaan itu semestinya diresapi dalam hati yang begitu dalam dan mencoba untuk meneladani dan mempraktikkan akhlak mulia dari nabi.

Saat melontarkan pujian-pujian dan sholawat yang begitu menggebu-gebu, sebaiknya tidak hanya di tujukan kepada fisik maupun keduniawiannya saja tetapi juga akhlak nabi yang begitu agung dan mulia.

Dalam hal ibadah, akhlak agung dan mulia dari Nabi itulah yang harus ditiru, dicontoh dan diteladani. Padahal kita tahu, Islam sebagai agama yang di bawa Nabi Muhammad SAW adalah rahmatan lil alamin.

Maksudnya, Islam membawa rahmat bagi alam semesta, bukan hanya umat Muslim saja atau manusia saja, akan tetapi semua makhluk seperti hewan, tumbuh-tumbuhan, dan alamnya.

Baca Juga : Keutamaan Bacaan Sholawat Nabi Muhammad SAW

Hikmah Maulid Nabi

Mendorong umat Islam untuk membaca shalawat

Allah memerintahkan kepada hambanya untuk bersholawat kepada Nabi Muhammad SAW. Allah berfirman : “Sesungguhnya Allah dan para MalaikatNya bershalawat untuk Nabi SAW. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuk Nabi SAW dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (QS. Al-Ahzab: 56)

Meneguhkan kembali kecintaan kepada Rasulullah SAW

bagi seorang mukmin, kecintaan terhadap Rasulullah SAW. Adalah sebuah keniscayaan, sebagai konsekuensi dari keimanan. Kecintaan pada utusan Allah harus berada di atas segalanya, melebihi kecintaan pada anak dan isteri, kecintaan terhadap harta, kedudukannya, bahkan kecintaannya terhadap dirinya sendiri

Meneladani perilaku dan perbuatan mulia Rasulullah SAW

Kita tanamkan keteladanan Nabi SAW dalam keseharian kita, mulai hal terkecil, hingga paling besar, mulai kehidupan duniawi, hingga urusan akhirat. Tanamkan juga keteladanan terhadap Rasul ini pada putra-putri kita, melalui kisah-kisah sebelum tidur misalnya. Sehingga mereka tidak menjadi pemuja dan pengidola figur publik yang berakhlak rusak yang mereka tonton melalui acara televisi.

Melestarikan ajaran dan misi perjuangan Rasulullah SAW

Karena sebelum rasul menghembuskan nafas terakhirnya, beliau meninggalkan pesan pada umatnya. Beliau bersabda : “Aku tinggalkan pada kalian semua dua hal, kalian tidak akan tersesat dengannya, yaitu Kitabullah dan sunnah Nabi-Nya SAW” (HR. Malik).

Artikel Lainnya : Sejarah Turunnya Al-Qur’an

Dalil Maulid Nabi

  1. Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW adalah ungkapan kegembiraan dan kebahagiaan dengan keberadaan Rasulullah SAW.

Dalam Q.S Yunus ayat 58, Allah SWT memerintahkan kita agar untuk senang dan gembira dengan rahmat-Nya SWT :

قُلْ بِفَضْلِ اللِّه وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَالِكَ فَلْيَفْرَحُوْا

Dan Nabi Muhammad SAW merupakan rahmat terbesar dari Allah SWT. Bukan hanya untuk kita, namun juga untuk seluruh semesta alam. Seperti Firman Allah dalam Surat Al Anbiyaa ayat 107 :

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ اِلاَّ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ

  1. Rasulullah SAW memperingati hari maulidnya dengan cara puasa setiap hari senin sebagai tanda rasa syukur kepada Allah SWT.

Dalam Kitab Shahih Muslim diriwayatkan hadits Abi Qutadah Ra bahwasanya Rasulullah pernah ditanya tentang puasa hari senin,Beliau SAW menjawab :

ذَلِكَ يَوْمٌ وُلِدْتُ فِيْهِ , وَيَوْمٌ بُعِثْتُ , أَوْ أُنْزِلَ عَلَيَّ فِيْهِ

  1. Kegembiraan dengan kelahiran Rasulullah SAW mempunyai manfaat khusus bagi setiap muslim.

Dalam Shahih Bukhari di ceritakan tentang sebuah kisah mimpinya Sayyidina Abbas Ra, paman Rasulullah SAW, tentang peringanan azab atas Abu Lahab setiap hari senin, karena di masa hidupnya pernah gembira menyambut kelahiran keponakannya, Muhammad ibnu Abdillah, dengan memerdekakan budaknya yang bernama Tsuwaibah Al Aslamiyyah.

Karenanya Al Hafidz Syamsuddin Muhammad bin Nashiruddin Ad Dimasyqi rhm membuat syair :

اِذَا كَانَ هَذَا كَافِرًا جَآءَ ذَمُّهُ بِتَبَّتْ يَدَاهُ فىِ اْلجَحِيْمِ مُخَلَّدَا

اَتَى أَنَّهُ فيِ يَوْمِ اْلأِثْنَيْنِ دَائِمًا يُخَفَّفُ عَنْهُ لِلسُّرُوْرِ بِأَحْمَدَ

فَمَا الظَّنُّ بِاْلعَبْدِ اَلَّذِى كَانَ عُمْرُهُ بِأَحْمَدَ مَسْرُوْرًا وَ مَاتَ مُوَحِّدَا

  1. Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW adalah media da’wah untuk memaparkan kembali sejarah kehidupan dan perjuangan Rasulullah SAW, untuk mendorong umat Islam agar cinta Rasulullah dan mau meneladaninya, sekaligus membiasakan umat bershalawat untuk Rasulullah SAW, sehingga menjadi peneguh hati kaum muslimin.

Dalam Surat Hud ayat 120 Allah SWT memberitakan dan menjelaskan kisah para Rasul dalam Al Qur’an untuk meneguhkan hati Rasulullah SAW.

وَكُلاًّ نَقُصَّ عَلَيْكَ مِنْ أَنْبآءِ الرُّسُلِ مَانُثَبِّتُ بِهِ فُؤَادَكَ

Demikianlah Sejarah Maulid Nabi, Makna Dan Hikmahnya semoga bermanfaat buat kamu semua.

(Visited 163 times, 1 visits today)
Gambar Gravatar
Perkenalkan saya Rofiana Fika Sari, saya sebagai penulis dalam blog ini. Semoga apa yang saya bagikan didalam artikel dapat menambah keilmuan anda dan semoga bermanfaat Amin.....

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *